Suara desahan yang kudengar darimu membuatku merasa senang. Suara eranganmu yang merasa kesakitan membuatku terhibur, lalu... Sekarang...
Chapter 1 : The Twins
~Rin POV~
"Uaaaaaargh!!" teriak laki-laki itu. Ya, laki-laki berkacamata itu mengerang dengan hebat, membuat telingaku sangat senang dengan suara merintihnya yang sebenarnya ingin berkata 'jangan-bunuh-aku'. Namun tubuhnya berlumuran darah karena beberapa tusukan dari pisau kecilku yang berbahaya ini. Kulihat dia dengan tatapan dingin, betis, lengan, leher, telinga miliknya semua sudah aku lumat dengan pisau kecilku ini sekarang tinggal sedikit sentuhan lagi dan semua karya seniku yang ‘indah’ ini selesai."Apakah ada kata-kata dan permintaan terakhir... Kiyoteru-kun?" dan segera aku mengeluarkan pisau bedah pemberian ‘Master’ku dan bersiap menghantamnya tepat pada jantungnya.
"Haaah... haaah... ka... katakan... ke... padaku... si... siapa... yang... memintamu... u... untuk mem... bunuhku... dan... siapa... ka...kau... sebenarnya?" dia berusaha untuk melawanku, tetapi itu percuma saja!! Karena aku langsung saja mengunci gerakannya dengan melempar sebuah jarum sepanjang 10 sentimeter tepat dikedua telapak tangannya yang halus itu "Aaaaaaargh!!" dia mulai mengerang kesakitan kembali. Suaranya kali ini membuatku tanpa sadar mulai berbicara kepadanya "Aku hanya boneka yang diminta oleh Master agar membunuhmu karena ada seseorang yang sangat ingin melihat kau lenyap dari dunia ini, dan dia adalah... Zatsune Miku".
Pupil matanya yang berwarna coklat creamy langsung menciut, mungkin dia sangat terkejut "Nah, ini sudah saatnya kau mati" dengan sigap aku langsung menusuk pisauku ke ginjal kanannya dan mulai memelintirkan pisau itu "AAAAAAAAKH!!" dia menjerit dengan kencang. Suara jeritan dan cipratan darah segar berwarna merah pekat yang keluar darinya makin membuatku menjadi beringas. "Khukhukhu..." langsung saja aku menancapkan pisau tepat pada jantungnya. Setelah 2 menit berlalu kulihat tatapan matanya kosang, tubuhnya kaku, dan bagian-bagian yang aku tusuk masih mengeluarkan berliter-liter darah yang membanjiri lantai putih Emerald ini.
"Tugasku sudah selesai..." langsung saja aku pergi meninggalkan sosok manusia itu dan aku tidak lupa meninggalkan sebuah tanda, yaitu... Kartu Bermotif Hati Hitam...
~Len POV~
"KRIEEEET" kudengar suara pintu rumah antik kami yang terbuat dari kayu pilihan dengan ukiran mawar terbuka. "Aku pulang... Master" ternyata dugaanku benar sosok yang kulihat sekarang ini adalah ‘Servant’ kesayanganku, bukan... Lebih tepatnya dia adalah saudara kembarku. "Hm... Kelihatannya kau belum puas membunuh Kiyoteru-kun dengan tangan gesitmu i-" "Tidak, aku lumayan puas" jawabnya tiba-tiba dengan nada sinis dan aku pun ber'oh' ria. Kembaran yang berdiri di hadapanku itu bernama Rin, sepintas banyak orang sulit membedakan kami. Tapi pastinya orang itu 'Sangat Bodoh' karena tidak bisa membedakan kami.
Karena sebetulnya kami memiliki perbedaan yang menonjol pada diri kami, yaitu warna bola mata. Mata kananku berwarna merah Ruby dan mata kiriku berwarna hijau Emerald, sedangkan Rin mata Ruby pada mata kiri dan Emerald pada mata kanan. "Hn... Aku mau pergi membersihkan diriku dulu..." keluhnya dengan sangat-sangat datar "Silahkan..." dan akhirnya Rin pun pergi dari hadapanku. Yah apa boleh buat... Seluruh tangan, rok hitamnya yang mirip gadis di pemakaman, pita putih yang menghiasi rambut emas yang sama denganku penuh dengan bercak darah yang sudah mengering. Sepertinya dia sangat senang menyiksa korban yang telah dibunuhnya itu, karena pembunuhan sebelumnya dia tampak biasa saja...
~Normal POV~
Mentari mulai menampakkan dirinya, burung-burung berkicau dengan riang, embun pagi yang masih berada diatas permukaan daun-daun mulai jatuh ke permukaan tana, semilir angin mulai menyibakkan gorden kamar Rin dan Len melalui celah jendela mereka masing-masing. Namun ternyata sebelum mentari tampak mereka sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Rin memasak di dapur dan Len membaca buku di ruang perpustakaan pribadi mereka. Ya... Rumah ini hanya dihuni oleh mereka berdua, karena sejak 7 tahun yang lalu saat mereka berumur 7 tahun sepasang anak kembar itu telah ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka yang dibantai habis-habisan di depan mata mereka.
"TOK TOK TOK" seseorang mengetuk pintu perpustakaan "Maste- Ah, maksudku Len... Saatnya sarapan" Len yang mengetahui itu langsung menjawab “Oke aku segera keluar Rin, kau pergi saja duluan ke ruang makan" "Baiklah Len..." dan akhirnya pun Rin pergi melangkah ke ruang makan, suara langkah rin terdengar sangat keras karena high heels hitam yang dipakainya. Sementara Len langsung memberi pembatas pada buku yang belum selesai dia baca. Buku apakah itu? Buku yang Len pegang sejenis dengan buku-buku bagi kalangan atas yang berotak jenius. Setelah selesai memberi pembatas, Len meletakkan buku itu di atas meja dan segera pergi ke ruang makan di rumah mereka yang terletak cukup jauh.
Setelah sampai di ruang makan mereka langsung duduk di kursi masing-masing. Hening—Namun mereka langsung memakan Omelet yang bertabur dengan selai Raspberry. "Jadi... Apakah masih ada permintaan membunuh dari client kita?" sahut Rin setelah mereka selesai memakan Omelet "Ya, ada beberapa permintaan dari luar London, sebagian permintaan berasal dari Asia" jelas Len "Oh, jadi kita harus menginap beberapa hari di Asia? Mungkin setidaknya kita bisa meninggalkan kota London yang membosankan ini." sindir Rin dengan nada 'Meremehkan' "Tentu saja... Dan ini beberapa data client yang meminta jasa kita." entah darimana Len langsung menyerahkan lembaran-lembaran data kepada Rin. "Hmm... Sepertinya kita penuhi permintaan client yang satu ini dulu." Rin memperlihatkan salah satu kertas tersebut yang bertuliskan...
To Be Continued